Rabu, 07 April 2010

Selaksa Senja Di Langit Salzburg


Segenggam harapan telah aku berikan. Dengan secercah kesabaran aku berharap pasti. Setangkai kasih sayang dengan semerbak wangi kerinduan sudah aku titipkan, agar dapat kau simpan di jambangan hati.
Namun cuaca tak selalu cerah. Seharusnya keceriaan ada diwaktu gerimis menitikan airnya. Dan kehangatan datang disaat hujan membasahi bumiku. Ketika suasana hatiku galau menanti kedatanganmu, aku merasa terharu bila kau menjelma dihadapanku. Memelukku dengan sekasih sayang yang kau punya. Lalu duduk manis di sampingku mendengarkan segala risau hatiku.
Tatkala mata ini basah oleh air mata. Sungguh indah bila kau iba untuk menghapus dengan jari halusmu. Tapi hampir mengering air mata ini, aku masih terjerembab di jurang penantian. Kapankah kau akan datang? Mengembalikan keceriaanku yang sejenak hilang. Menata kembali raut wajahku yang mulai lusuh. Melukis senyumku yang hampir pudar.

16-11-07

Senja tak lagi bermega merah, yang lekat mata bila memandangnya. Yang siapapun enggan beranjak sampai gelap menutupinya. Kini senja hitam mencekam. Siapa yang mampu bertahan memandang kecuali rasa takut akan pekatnya.
Kurasa hujan sudah turun di hatiku. Aku terperangkap di ruang kerinduan. Pandanganku tertahan oleh derasnya hujan yang turun. Tapi wajahmu masih menari-nari di ujung anganku. Fhh, aku kira kau pun sedang menikmati hujan hari ini. Dengan sejuta kenangan indah bersamaku.
Ku coba membuat senyum dalam hati. Dengan menata kata menjadi sebait puisi . Aku tak kuat untuk sedikit beranjak. Tak mampu keluar dari ruang gelap. Hatiku lantak oleh badai kesunyian. Sekarang telah memuncak sampai ke pelupuk mata. Tak mampu aku menahannya hingga jatuh membasahi bumiku. Saat ini aku benar-benar terperangkap dalam ruang kerinduan. Hanya pertolonganmu yang aku butuhkan saat ini.

17-11-07

Sepi bersanding sunyi. Ku habiskan waktu tanpa hadirmu. Setelah sekian lama penantianku. Setelah hampir keputusasaanku menunggumu. Kau datang hanya sampai depan pintu hatiku. Tak Kau ketuk apalagi mengucapkan salam. Hanya dengan isyarat kau mengeluarkan suara. Sedang puncak kerinduanku menunggumu di dalam.
Aku kecewa dengan berat rasa di dada. Kau pun pergi tanpa lagi permisi. Sedang aku masih menunggumu mengharapkan obat kerinduan- yang selalu kau bawa ketika akan menjengukku. Tidakkah kau tahu, ketika aku mendengar suaramu, rasa kerinduanku semakin berat untuk ku angkat. Mengapa kau tak masuk untuk sekedar melihat aku terkapar di ruang penantian?

17-11-07

Setiap detik aku menghela nafas dalam-dalam. Rasa rindu ini telah menggunung hingga ke puncak hati. Penantian yang belum juga muncul kepastian. Sejenak aku menghibur hati; sejurus sebongkah batu menghantam kembali.
Aku terkapar. Kini terdampar di pantai penantian. Di pulau kecemasan.
Aku berharap ombak kebahagiaan segera membawa rinduku datang bersama bahtera kasih sayang. Sehingga puncak penantianpun segera berakhir.
Derita hati tak bertepi cukup sampai di sini.Tapi mengapa rindu setiap hari merayu-rayu. Padahal cinta sudah di depan mata. Aku tak mampu mendekapnya dengan kehangatan kasih sayang. Tapi aku hanya mampu berkata bahwa aku mau rasa rindu ini akan selalu terjaga hingga akhir hidupku. Agar cinta selalu merasa bahagia disaat rindu ingin bertemu.

17-11-07

Malam-malamku lelah menanti kedatanganmu. Mimpiku resah bercampur gelisah. Tak ada lagi taman bunga atau aroma cinta. Peluh tak henti meluruh basahi tubuhku.
Dan sampai pagi ini aku masih mengharap cinta segera tiba. Setelah bulan tersenyum sinis, kini bintang fajar yang mengejekku dengan cahayanya. Aku takut sampai senja bertemu kembali kau belum juga datang menemuiku.
Telah ku ketuk pintu hatinya. Tapi Tak satu katapun yang keluar untuk sekedar memberi kepastian, bila kau telah pergi. Atau kalau kau sedang sakit dan terkapar hingga tak mampu kau keluar untuk sekedar menatapku dengan iba?
Tak sadarkah kau setangkup rasaku kau pinjam tanpa permisi. Aku takut itu untuk kau jadikan sebuah kenangan terakhir dariku. Jangan, aku tak ingin hanya itu yang kau bawa pergi. (Bahkan aku tak ingin kau pergi). Ada sesuatu yang lebih berharga yang mesti aku berikan kepadamu, tidak cukup setangkup rasa itu.
Jika kemarin adalah pertemuan terakhir kita, mengapa tak kau katakan dengan sejujurnya. Rasanya indah bila dapat menitikkan air mata ini di hadapanmu. Aku akan terus menunggu kabarmu selanjutnya.
Tak akan pernah putus tali persahabatan yang telah kita ikat erat. Tak jua bisa habis rasa kasih sayang yang sekian lama kita kumpulkan. Ataupun lekang diterjang terik mentari. Apalagi hanyut terbawa arus hujan. Tidak akan. Semoga kau terus menyimpan sepucuk sayang yang pernah aku berikan. sebagai kenangan yang tak akan pernah bisa terlupakan.

17-11-07

Kekhawatiranku merasuk semakin dalam. Ketika kau bercerita tentang kerinduan. Sepertinya waktu yang telah ditentukan semakin dekat. Dan sudah terasa sampai ke dadaku kabarnya. Hatiku merintih lirih akan perpisahan yang selalu kau ucapkan kepadaku.
Jangan sendu, kawan. Aku menitikkan air mata bukan menangisi akan perpisahan kita yang pasti akan terjadi. Tetapi apa yang berarti yang telah aku beri untukmu. Meski sesungguhnya hatiku akan merasakan kepedihan yang mendalam akan kepergianmu. Kawan setia yang setiap waktu menemaniku. Yang setiap saat khusyu mendengarkan cerita dan nasihatku. Kawan yang membuat aku ada di dunia ini. Yang menjadikan hari-hariku selalu berwarna.
Jangan marah, kawan. Bila kau bosan mendengarkan sepenggal kisah teladan atau nasihat usang. Memang aku tak pandai bercerita. Siapa lagi yang mau mendengarkan suara parauku bila aku bernyanyi. Hanya dirimu, kawan. Yang pandai menutupi dari setiap kekurangan diriku. Yang ahli dalam menjaga rahasia.
Biarkan, kawan. Aku masih menikmati detik-detik perpisahan ini dengan menitikkan air mata. Jangan kau ikut bersedih. Aku tidak sedang menangis. Aku hanya bimbang akan keadaanmu kemudian. Dan bila aku yang lebih dahulu pergi meninggalkanmu mungkin aku memilih yang terakhir.
Hati-hati, kawan. Aku titipkan kerinduan bersamamu untuk kau semai. Bila sudah tumbuh dewasa aku akan menjenguknya atau kau yang membawakannya untukku. Mungkin seperti yang selalu aku bisikan kepadamu, yang menjadi pesan terakhirku, jangan pernah lupakan waktu-waktu-NYA; Jangan pernah berhenti untuk mengaji dan mengkaji. Waktu terus beranjak, Kau mesti cepat-cepat berangkat. Dan aku ingin menikmati kesunyian seperti dulu.

17-11-07

Mata ini sembab tadi malam, kawan. Aku risau akan keadaanmu yang tidak ada kabar terakhir tentangmu. Kabar tidak menyenangkan datang dari sahabatmu, bahwa keselamatanmu sedang terancam. Karena itu kau tak datang menemuiku untuk mengobati setitik kerinduanku. Satu hari setelah kabar itu ku terima, kau pun tak datang yang kedua kalinya. Aku menjadi cemas. Apakah kau sedang sakit seperti yang aku lihat terakhir kali. Wajah sejuta kenanganmu pucat pasi waktu terakhir itu.
Tapi, ketika aku sedang pergi, tanpa aku sadari ternyata kau datang ke rumah rinduku. Dan tanpa sepengetahuanku kau meminjam sebongkah kerinduanku. Lalu kau pergi dan tak ada kabar lagi sampai detik ini. Namun aku sedikit bahagia karena kau menitipkan salam sayang untukku melalui sahabatmu.
Namun aku selalu berharap kau datang kembali sambil membawa kerinduan yang kau pinjam. Meskipun aku rela menghibahkannya untukmu, tapi apalah arti kerinduan tanpa cinta. Karena aku sadar, kamu adalah cinta yang selalu mengobati kerinduanku setiap waktu.

18-11-07

Sorot matamu masih aku simpan rapih di laci hatiku. Ramah senyummu terpajang indah di bilik anganku. Ceria tawamu selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Sendu suaramu yang setiap waktu membangkitkan rasa rindu-sehingga suasana bersamamu menjadi bagian dari hari-hariku. Hangatnya kasih sayangmu tak pernah lupa untuk aku jadikan selimut tidurku.
Namun aku tak kuasa, kawan. Bila perpisahan yang akan pasti terjadi. Entah berapa lama aku mesti menahan pedih di hati. Satu tahun mungkin aku tak mampu untuk meredam kesunsyian, menyembuhkan luka hati yang selalu basah oleh resah. Mencari pengganti keceriaan yang telah sempurna. Masih adakah yang sepertimu di dunia ini. Ketika buah kasih sayang sedang ranum. Kau akan meninggalkannya hingga runtuh terjatuh, semakin masak dan membusuk. Hingga tak sempat kau merasakan manisnya. Relakah kau membiarkan begitu saja. Setelah pohon kasih sayang berbuah cinta, kau biarkan kering rantingnya, dan jatuh berserakan buahnya.

18-11-07

Detik perpisahan kita semakin dekat. Aku ingin permohonan terakhirmu kepadaku. Tapi, tidak , Aku tak punya sesuatu untuk aku berikan kepadamu, bila yang kau inginkan sebuah harta. Sederet sajak usang hartaku yang masih tersisa. Bila yang kau inginkan serangkai kata cinta. Yang selalu membangkitkan kerinduan disaat membacanya. Atau sebait cacian yang akan selalu terkenang ketika kemalasanmu selalu hadir diwaktu mendengarkannya. Jika disuatu saat aku terjangkiti akan kerinduan. Dan ketika kerinduanku sudah menggunung di puncak hati. Dengan apa aku harus mengobatinya, kawan. Kemana aku mesti mencari penawarnya. Dimana aku dapatkan wajah ceriamu. Hatiku menangis tak henti, tersedu. Meski kau masih di di sini bersamaku, kesunyian selalu menghunus mengancamku. Kesepian semakin akrab dikeseharianku. Kerinduan setiap detik merayu-rayu selalu. Aku ingin sakit setelah aku temui obatnya, kawan.

18-11-07

Aku seperti kehabisan kata. Saat seketika resah gelisah berganti bahagia. Aku bagai berada di surga. Saat ku langkahkan kaki ke ladang pesta. Tanpa aku sadar yang sedang aku rasa. Tapi aku sulit untuk menolak jika malaikatku mengajak. Dzikir suci begitu lantang terdengar. Dibuatnya aku terbelenggu membisu. Mengalir menjalar ke seluruh tubuhku melalui aliran darahku yang beku. Aku terpaku. Membisu. Dengan sejuta rasa di dalam dada.

26-11-07

Bulan hampir mendekati purnama. Tapi belum ada kepastian bila kau telah tiba. Sehingga aku sering kali berprasangka. Jikalau hari ini kau tak menampakkan diri, berarti kau tak kembali lagi untuk menyapaku di sini.
Jangan bersedih jika waktuku tak seperti dulu, kawan; ketika bersamamu. Tak perlu kecewa bila hari-hariku tak lagi ceria. Dan tak usah kau heran karena senyumku malas untuk sekedar bercanda. Aku tidak berubah, kawan. Karena adanya kamu duniaku jadi berwarna. Dan kini kau pergi meninggalkanku dengan semua warna yang pernah kau lukiskan dengan indah di duniaku. Kini aku seperti aku yang dulu. Yang tak punya warna untuk tertawa. Yang tak ada cinta lagi di hati. Maaf, kawan. Inilah aku yang tanpamu. Dan aku berharap kau datang kembali dengan membawa sejuta warnaku yang dulu.

26-11-07

Hari ini aku lupa menitip pesan untukmu. Itukah yang membuatmu tidak datang menemuiku hari ini. Ketika aku butuh seorang penolong dari kehampaan hidup. Kau tahu, hatiku menangis tak henti setiap hari. Hingga setiap ruang rinduku terhimpit oleh kesedihan. Tidakkah kau merasakan, sampai air mataku mengeluh lelah. Setiap hari aku rasakan kesunyian. Anganku selalu terlukis ceriamu yang me nyimpan kedukaan. Di sini aku menantiketidakpastian. Menunggu penantian. Hanya ingin menatap indah wajahmu.

28-11-07

Aku mulai belajar, kawan. Setelah kau tinggal aku beberapa hari, betapa disetiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku baru tersadar. Dibalik kemesraan yang setiap saat kita lewati, suatu saat akan berakhir. Aku sedikit tegar, kawan. Kehangatan kasih sayang yang setiap detik kita rasakan pada waktunya akan surut diterpa dinginnya badai hujan. Tapi tak perlu kau cemas. Ikatan tali persahabatan kita tak akan pernah lepas sepanjang masa. Aku pun telah menanam kembali benih kasih sayang yang akan terus tumbuh sampai dewasa hingga berbuah cinta.
Sabar, kawan. Kita pasti akan bertemu kembali di suatu waktu
Kita akan kembali mengenang masa kita bersama. Dimana suka kita lewati dengan sabar. Dan dimana duka kita jalani dengan ceria
Tunggu, kawan, dengan keyakinan, waktu pertemuan itu pasti akan terjadi.

04-12-07

Aku tahu kau telah pergi yang tak dapat aku harapkan kembali. Telah berlalu dari hadapanku,, dan telah hilang di setiap hari-hariku yang kembali gersang. Kini ceriamu hanya ada di angan-angan. Tawamu menjadi bayang-bayang semu. Sentuhan hangat kasih sayangmu semakin hilang. Tapi tak akan pernah bisa lekang. Sendu suaramu masih terekam pada pita benakku. Semua aku simpan rapi dalam memori ingatanku. Agar saat kerinduan ingin bertemu memuncak, Aku dapat obati dengan sejuta kenangan bersamamu. Meski hanya sementara, mungkin cukup bagiku untuk tetap bertahan hidup. Aku akui suatu saat nanti kerinduan akan menyesaki ruang dadaku.
Diwaktu rasa di dada berontak ingin bertemu. Tak ada yang dapat aku lakukan, kecuali mengingatmu sambil tersedu. Aku berharap kesabaran serta ketabahan masih mau membantuku untuk keluar dari belenggu kerinduan.

05-12-07

Sepertinya saat perpisahan kita telah tiba. Sempurna sudah kenangan kita ukir bersama. Lelah sudah hari-hari kita lewati berdua. Dimana canda, tawa, bahagia menjadi lukisan indah didetik-detik yang kita jalani. Dan juga duka lara yang selalu kita bagi sama rata.
Dua musim telah menjadi saksi perjalanan kita. Dimana ketika hujan kita rasakan kehangatan, dan diwaktu panas kita ciptakan keceriaan. Kuharap kau tidak melupakan setiap jengkal kenangan kita. Tapi kekecewaan mendalam masih tersisa, kawan. Ternyata kau masih menyimpan segumpal duka yang tak pernah kau bagi kepadaku. Hingga kau pergi tanpa sepatah kata yang membuat aku sedikit merasa bersalah.

06-12-07

Aku baru tersadar, ketika penyesalan tiada arti lagi. Dengan sembunyi kau mengikis kenangan dariku untuk kau simpan di bingkai kerinduan. Diam-diam kau menyimpan rencana besar. Sampai semua terbongkar tidak sepatah kata pun keluar dari mulutmu bahwa kenangan kita telah sempurna.
Kau telah pergi, kawan. Mengapa kau bersembunyi untuk mengatakannya. Sehingga aku selalu bertanya-tanya. Sampai aku tersiksa menantimu. Ternyata, kemesraan yang di hari-hari lebih kau berikan adalah pemberianmu yang terakhir untukku. Kau hebat, kawan, dengan selalu menjaga perasaanku agar hatiku tidak terluka. Ataukah kau tidak kuasa untuk mengatakannya.
Tak perlu kau khawatir, semua telah aku persiapkan dengan sempurna. Meski nantinya aku masih menitikkan air mata. Aku sadari, ini adalah sebuah rencana besar. Sulit bagi siapapun untuk menerimanya dengan lapang dada. Jadi kau harus mengerti, jangan kau hiraukan bila air mataku mengalir deras mengantar kepergianmu. Karena aku tak bisa memendam kepedihan yang begitu dalam. Sulit untukku untuk berpisah denganmu. Meski kau ucapkan akan kembali, aku tetap kehilngan kawan sejati.
Entah kapan kita dapat kembali bertemu. Mengenang hari-hari bersamamu dulu. Dan bila kau mengetahui, luka hatiku begitu dalam. Hingga tak dapat aku pastikan waktu untuk menyembuhkannya.

07-12-07

Jumat ketiga aku lewati tanpa senyummu. Dimana langit menjadi cerah bila kau sedang tertawa. Duniaku berwarna ketika senyummu rekah. Keceriaanku tampak disaat kau ada. Bahkan semangat hidupku bangkit ketika hari-hariku selalu kau di sampingku. Menemaniku kemanapun aku pergi. Langit pun ikut mengiringi kepergianmu. Langit Salzburg murung melihat kepergianmu.
Gerimisnya disore ini membuat suasana semakin syahdu. Terkenang masa-masa kita bersama melawati musim hujan. Awal kita bertemu dan berkenalan. Masih ingat, kawan? Keakraban semakin erat waktu aku mengantarmu pulang ke istanamu, karena larut sudah menyelimuti sepanjang jalan. Dan bukan saja kau bilang takut, tapi juga aku iba dan khawatir akan keselamatanmu. Kini gerimis itu telah sampai ke hati. Lumrah, kawan. Setiap manusia pasti akan merasakan kerinduan. Lebih lagi dengan orang yang pernah dekat dengannya, kemudian ia pergi meninggalkannya. Meski itu untuk kembali lagi.
Kali ini semakin deras. Aku melihat kau sedang membutuhkan pertolonganku untuk keluar dari perangkap derasnya hujan. Aku tahu itu hanya ilusi belaka. Bukankah kau sedang menikmati derasnya hujan di halaman istanamu, sama seperti aku juga.
Saat ini kita tidak bisa berbagi cerita. Tidak seperti dulu ketika hujan deras mengurung kita, cerita tentang kita pun mengalir dengan hangat.
Hari ini aku lebih tenang. Tidak seperti dulu waktu kau masih bersamaku. Sebagian waktuku aku sisihkan untuk menunggumu. Disaat itu aku bertarung. Antara bahagia bila kau datang. Atau kecewa bila hingga senja kau belum juga tiba.
Kawan, sampai detik ini aku masih memulihkan luka kepedihanku akan kepergianmu. Ketika kesunyian datang menyapaku, selalu aku teringat akan kenangan hangat kita bersama. Tapi aku lekas beranjak. Mencari suasana yang sedikit nyaman. Aku takut bila air mataku jatuh sia-sia. Aku ingin air mata itu jatuh di hadapanmu. Agar kau mengerti kasih sayangku melebihi yang kau perkirakan. Dan agar kau tahu begitu berat untuk berpisah denganmu. Meski untuk sejenak aku tak mampu menahan kerinduan.
Semalam hujan cukup deras. Dan pagi ini jalan basah dan berlumpur. Jalan yang selalu kita lewati bersama. Sepedamu masih tersimpan dengan rapih, bukan? Atau kau ajak pulang ke kampung halamanmu. Sepedaku semakin tua. Tapi masih aku rawat dengan baik. Dialah yang selalu membawaku ke ruang kerinduan. Ke museum kenangan kita berdua. Masih lengkap, kawan. Semua aku pajang dengan rapi dan teratur. Aku akan merawatnya dengan baik. Agar suatu waktu kau mengunjungi aku kembali masih bisa kau nikmati lagi.
Aku tahu, kau menginginkan waktu cepat beranjak. Menghampiri saat-saat pertemuan kita kembali. Karena aku pun mendambakan seperti itu pula. Sebab masih ada sesuatu yang mesti aku ungkapkan kepadamu. Adikku tersayang. Maaf, kawan, aku belum sempat mengucapkan itu kepadamu langsung. Sebab aku selalu memikirkan akan perpisahan yang selalu kau ucap kepadaku. Meskipun tak kau ucapkan dengan sejujurnya, aku mengerti, bahwa kau tidak mampu hidup dibawah tekanan. semoga kau sekarang sudah cukup tegar. Apa yang telah kau alami, jadikan bahan pelajaran. Karena banyak yang bilang guru terbaik adalah pengalaman.

07-12-07

Aku tak sekekar batu karang di lautan. Yang tetap tegar meski gelombang besar menghantam. Aku hanya sebatang kayu rapuh, yang selalu tumbang meski angin kecil berhembus pelan. Sebagian nyawaku kau bawa pergi. Setengah semangatku kau curi, bersama kenangan yang pernah aku titipkan. Sekarang aku hampa tanpa cinta. Seberkas kasih sayangku semakin redup tanpamu. Aroma kemesraan sewaktu kita bersama kini tak semerbak seperti dulu, sewaktu bersamamu. Kehangatan sentuhan tulusmu tak mampu lagi menepis dinginnya malam ini. Teduh sorot matamu tak lagi melindungiku dari sengatan matahari.
Kini tak ada yang dapat menghiburku dengan suara merdumu. Tak ada yang bisa lagi membuat aku tersenyum. Siapa lagi yang membuat aku pandai berpetuah, yang semakin sadar akan artinya cinta-Nya.

21-11-07

Aku masih mendengar titik-titik air yang jatuh dari atas genting. Sisa hujan semalam. Di pagi ini. Subuh syahdu dengan suara merdu lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dari masjid dan mushola. Bukan aku tidak suka, kawan. Biar sejenak kita rentangkan waktu untuk sejengkal kita menjaga jarak. Aku ingin menyemai kerinduan kembali, yang ku harapkan tumbuh menjadi pohon kasih sayang yang indah. Sehingga pada saatnya nanti akan berbuah cinta. Mudah-mudahan kamu mengerti, kawan, meski aku sedikit tersiksa oleh kerinduan.

24-11-07

Aku masih merangkai bait di selembar kertas kasih agar dapat mengasilkan makna sayang di dalamnya. Juga masih ditemani semilir angin pantai disehabis senja ini. Rindu, wajahmu masih sayup ku bayangkan. Sentuhan hangatmu belum hilang rasa. Sejenak tawamu terlukis jelas di anganku. Sendu suaramu selalu bernyanyi di perbatasan gendang telingaku.

25-11-07, pagi

Masih seperti biasanya. Di pagi yang dengan angin basahnya. Setiap hembusannya membawaku serasa berada di puncak gunung Bromo. Tapi kali ini lebih syahdu dengan pemandangan bulan yang masih berani menampakkan diri.
Entah apa, kawan, aku jadi rindu akan Ramadhan yang sudah kita lewati beberapa bulan yang lalu. Kepastian akan bertemu kembali yang tidak bisa diterka. Keakraban kita yang membuat aku rindu akan waktu itu. Awal kita memulai persahabatan yang sampai saat ini semakin akrab. Adik tersayang. Kawan setia. Belum lama kedatanganmu dikehidupanku, tapi apa gerangan yang membuat aku sulit untuk berpisah meski beberapa saat denganmu.

25-11-07, siang

Kenangan kita sedikit pudar, kawan. Musim hujan beberapa hari telah berlalu. Oh, atau mungkin aku yang sudah pelupa. Bukankah kita juga pernah mengarungu musim panas bersama? Tapi tidak semesra musim hujan. Karena awal kedekatan kita. Ketika bakda maghrib kau pulang tidak ada teman yang biasa mengantarmu.
Suasana semakin akrab ketika kita menikmati jalan basah, karena guyuran hujan lebat, dengan berspeda ria sambil mengalir cerita tentang kita. Satu rumpun beda kota. Awal kita saling berkanalan. Masih ingatkah, kawan, saat kau sulit sekali menangkap namaku. Aku sedikit kecewa, kawan. Mengapa kita begitu cepat sampai di pintu gerbang istanamu. Padahal cerita kita masih panjang. Mungkin malam ini tidak cukup untuk menuntaskannya. Biarlah, dapat kita sambung di malam-malam berikutnya.
Beberapa hari kita habiskan bakda maghrib seperti biasanya. Berspeda sambil bercerita sepanjang jalan menuju Salzburg. Kau masih ingat, kawan, ketika kamu memaksa aku untuk mempir untuk menymbangi istanamu. Aku bahagia bisa berkenalan dengan orang-orang dekatmu. Beberapa kali aku bertandang ke istanamu sehingga aku semakin sulit berpisah denganmu, bila suatu saat kamu meninggalkan semua ini.

27-11-07

Coba keluar sebentar, kawan. Tengok ke atas langit sana. Bulan memancarkan cahaya yang begitu damai. Indah, kan, kawan. Shubuh ini apa kau sudah bangun, kawan? Katanya punya tugas ngepel lantai jam setengah lima. Buktinya sering kesiangan, ketika Abang tanya, jam enam baru bangun. Biasakan berbicara jujur, kawan. Jangan pernah kecewakan orang-orang dekatmu, lebih lagi orang lain. Kamu harus pintar-pintar mengatur waktu,kawan. Kapan waktu makan malam, kapan waktu belajar dan kapan saatnya tidur. Serta jangan lupa sholat harus tepat waktu. Jangan menganggap ringan sholat sunnah. Kita mesti pintar-pintar mencari keuntungan akhirat. Jangan Cuma keuntungan dunia aja.
Eh, ngajinya mesti sering-sering. Ada yang bilang bias ala biasa. Jangan risih lagi kalau denger murottal. Jangan alergi kalau denger orang ngaji. Iyang harus terbiasa dengerin orang tadarusan.
Rajin baca buku juga. Rajin belajar, ok! Jangan males. Nggak ada yang bisa Abang kasih yang lebih berharga kecuali nasihat-nasihat yang abang bisa beri buat bekal pulang kampung yang sudah kamu rencanakan setelah lulus SD di Jakarta ini. Abang selalu berdo’a buat kamu setelah selesai sholat lima waktu. Semoga kamu menjadi anak yang sholeh. Yang selalu sabar dalam mendirikan sholat, yang selalu istiqomah dalam berbuat kebaikan, taat kepada Allah dan orang tua.

30-11-07

Aku terperangkap di ruang rindu. Sepanjang hari ini, kawan. Aku masih mencari. Jejakmu semakin tak tampak, sedang kerinduan sudah memuncak. Langkahku terhenti, tak mampu aku sedikit bertindak. Setiap kali hasrat ingin berjalan, aku tak tahu kemana arah dan tujuan.
Aku terbelanggu oleh rantai rindu. Ditengah terik mentari, dihari yang selalu kita lewati bersama, aku masih simpan dibenak kenangan. Tapi sekarang tubuhku terbakar, kakiku luruh. Tak seperti ketika bersamamu, sesuatu akan teredam panasnya.
Aku terkurung direlung-relung rindu. Dikelam badai menghadang, aku tak gentar meski petir menyambar-nyambar. Masih bersamamu, kawan. Saat-saat itu masih aku tata rapih. Kadang aku buka untuk kembali mengenangnya. Ketika rinduku semakin tak bertepi. Dimana kau saat ini? Aku ingin segera bertemu. Bukankah kau yang selalu menjadi penawar kerinduanku?

30-11-07

Pohon kita hampir layu, kawan. Pohon kasih yang semakin jarang kita siram dengan air sayang. Bukan karena kita lupa, kan?. Mungkin hanya waktu yang belum menakdirkan kita untuk bertemu kembali dan menyiramnya bersama.
Pohon kasih kita hampir berbunga. Dan sebentar lagi akan berbuah cinta. Tapi aku khawatir bila kamu belum juga muncul, sampai senja berlalu, untuk mengajakku menyiramnya. Bunga itu akan semakin layu dan terjatuh akhirnya. Jangan kau jadikan sia-sia pohon yang sedari kecil kita rawat dengan baik. Dan sekarang sudah hampir berbuah. Maukah kamu untuk sekedar melihatnya? Aku yakin kamu akan senang hanya dengan melihatnya dan akan berniat untuk merawatnya kembali.
Sebentar lagi kita akan segera menuainya. Tolong, aku mohon kepadamu, jemput aku. Bersama kita menyiramnya. Aku selalu menunggumu. Jangan biarkan aku setiap saat diburu rasa khawatir akan pohon kita yang semakin tidak menentu akan nasibnya. Jangan biarkan aku terperangkap di jurang penantian dengan setumpuk kerindaun.
Batinku sedikit tersiksa akan kepergianmu yang hingga saat ini belum ada tanda kepastian bila kau akan kembali, jangan lupa untuk membawa obat penawar kerinduan yang biasa kau berikan kepadaku.
Suasana semakin dingin kurasa bila malam tiba. Dan panas terik membakar tatkala mentari menyapa. Berbeda dengan suasana bersamamu. Kita arungi hari-hari dengan gembira. Awan kemesraan selalu mendampingi kemana kita pergi. Tapi saat ini, setengah nyawakku ikut bersamamu. Aku bagaikan hidup di bayang-bayang. Tidak tahu arah. Kemana aku harus melangkah. Aku mohon, bawa setengah nyawaku pulang.

01-12-07

Masih dipucuk-pucuk kerinduan. Semalam kamu datang lewat mimpiku. Aku begitu terkesan melihatmu tersenyum. Senyum yang biasa kamu berikan kepadaku. Tapi terasa sesak dada ini begitu aku tersadar. kembali aku arungi hari dengan kegalauan.
Siang adalah hari yang penuh penantian. Malam menjadi waktu yang sangat mencekam, menunggu kepastian. Sehari tanpamu aku gelisah. Tapi saat ini, terhitung hari kamu pergi. Bagaimana aku bisa meredam kerinduan yang begitu mendalam. Aku hanya bisa berharap kepada Tuhan agar kamu segera kembali membawa setengah nyawaku.

03-12-07

Langit hatiku runtuh. Kabar itu selalu mengahantuiku. Kabar yang selalu memburuku setiap waktu, kini tampak di pelupuk mata. Kabar yang setiap saat membuat aku takut, sekarang menjelma tanpa terduga. Maaafku belum terucap tapi kau telah pergi jauh yang tak tentu kembalinya. Sungguh aku belum siap untuk berpisah dengannya.
Aduh, kawan, aku jadi serba salah sekarang. Bukan apa-apa kunci sepeda dimana? Hehehe,,, Hidup Abang jadi seperti sia-sia. (Padahal nggak…)
Kata-kata sudah Aku persiapkan untuk pertemuan terakhir kita. Sungguh Allah yang menguasai setiap rencana makhluk-Nya.
Tidak ada lagi yang lebih perhatian, yang perhatiannya lebih, kecuali kau, kawan. Terakhir kita bertemu langit sudah berkabut, kawan. Langit sepertinya runtuh. Ketika berita perpisahan terdengar, hujan turun lebat. Padahal telah banjir hatiku dengan air mata.

04-12-07

Kenangan kita kembali menyapa. Pertama kali kita saling kenal. Awal kita bertatap muka. Mula mata kita saling menyapa, bukankah di musim hujan. Yang selalu kita redam dinginnya dengan kehangatan kasih sayang.
Waktu pertama kali kita melangkahkan kaki seirama. Masih ingat, kan? Kita habiskan waktu sepanjang jalan dengan bercerita tentang kita. Mudah-mudahan kamu menjadi lebih baik dengan kepulanganmu ke kampung halaman. Lebih rajin dan lebih dewasa.

05-12-07, pagi

Aku jadi terkenang. Teringat masa-masa kita menghabiskan waktu berdua. Musim hujan kembali mengetuk hatiku. Adalah awal pertama kali kita saling mengenal. Waktu nganter kamu pulang ke istanamu. Ketika aku menawarkan sebuah nama. Berapa kali harus aku ulang. Bahkan aku menyebutkannya perhuruf agar lebih jelas. Sesuatu yang menyenangkan.
Dadaku terasa sesak bila sedang sepi menyendiri. Apalagi di tempat yang sering kali kita lewati bersama. Di masjid tempat kamu belajar ngaji. Bahkan di sepanjang jalan kota Wisata, tempat kita bercerita suka maupun duka. Masih ingat kan, apabila kita akan berpisah dari satu pertemuan, pasti selalu ada kesan dan pesan mendalam. "Hati-hati ya, Bang.." pesanmu.
"Jangan lupa sholatnya.." Kamu hanya tersenyum, kawan. Tapi aku nggak akan marah. Tak perlu kau khawatir.
Aduh, kawan, mendung lagi. Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan. Mungkin akan sampai ke pelupuk mata. Aku belum cukup kuat menahan kepedihan ini. Kalau sudah seperti itu aku hanya bisa menghibur diri, bahwa kita akan bertemu kembali suatu saat nanti, meski tiada kepastiannya.

05-12-07, sore

Kamu masih ingat pertemuan terakhir kita, kawan. Aku tak menduga ternyata itu pertemuan kita yang terakhir. Sorot pias matamu masih tersimpan dengan sempurna, dengan senyum yang beraroma kedukaan, ternyata itu yang terakhir untukku. Kau hebat, kawan. Terima kasih telah menjaga perasaanku. Meski perih terasa aku berharap kau dapat menemukan yang terbaik segalanya dengan kepergian ini.
Sebenarnya detik perpisahan kita sudah aku persiapkan sejak lama. Bahwa aku pasti akan merasakan kerinduan yang sangat hebat. Dan pasti air mata akan selalu tertitikkan. Sebagai pelipur kepedihan. Aku tak mampu menghalangimu untuk pergi. Bukankah kau sedang sekolah yang sebentar lagi akan ujian. Dan bukankah hari raya Idul Fitri kau tidak diperbolehkan untuk pulang kampung? Itu yang menyebabkan aku tak dapat melarang. Meskipun firasat bahwa kau tidak akan kembali lagi sempat terbersit di hati.
Sulit, kawan. Meski persiapan sudah matang. Sulit untuk meredam kerinduan yang mendalam ini. Pada saat-saat kita menjalani hari bersama. Aku selalu teringat akan kenangan kita. Saat ini kenangan kita menyapa. Musim hujan kembali datang. Adalah pertama kali kita saling kenal. Kita habiskan waktu malam sepanjang jalan kota menuju istanamu. Kawan, sampai saat ini aku masih dapat bertahan. aku dapat sadari semua ini adalah sebuah ujian.
Gerimis masih terus mengemis. Meski sekarang aku sudah cukup tenang, tapi wajah ceriamu masih lekat dalam ingatan. Dan mungkin tidak bisa terlupakan. Kawan, apabila aku lewati dimana kita pernah lewati berdua, aku selalu terpaku. Lalu wajah keceriaan dan wajah kedukaan menari-nari di sana. Tanpa diundang air mata ikut menemani kesenduan. Karena kau adalah sahabat terbaik sepanjang perjalanan hidupku.

08-12-07, pagi

Aku harap keajaiban akan datang. Dimana saat itu waktu mempertemukan kita kembali. Entah kapan dan dimana aku tidak tahu. Meskipun langit telah mengiringi kepergianmu, aku masih merasakan kamu masih di sini. Apakah persahabatan kita terlalu erat, sehingga begitu sulit bagi aku untuk sejenak mengalihkan perhatianmu. Apalagi melupakanmu, aku rasa sesuatu yang mustahil.
Raut wajahmu terukir indah di benakku. Lukisan keceriaanmu pekat terasa di anganku. Tawamu pun masih aku nikmati sampai detik ini.
Dua minggu yang lalu kamu buat aku merasa terkesan. Seluruh kehangatan kasih sayang yang kamu punya kamu berikan kepadaku. Aku tidak menyangka jika itu sebuah tanda perpisahan kita. Mengapa kamu rahasiakan, kawan? Aku harap bukan karena kebencian akan kepergianmu. Aku kira sudah waktunya kita untuk berpisah. Tidak ada perpisahan bila bukan karena pertemuan. Tapi, kawan, sesekali kerinduan itu menyeruak di lubuk hatiku. Diiringi dengan air mata yang selalu menjadi teman kesedihan. Ingin bertemu denganmu, ingin melihat wajah ceriamu, wajah kedamaian yang selalu terpancar di sana.
Semoga bukan karena kebosananmu, kawan. Hingga kau pergi tanpa permisi. Maaf, kawan, bukan karena sesuatu. Masih labil, kawan. Pendirianmu belum cukup kuat untuk mengatasi hebatnya pengaruh lingkungan. Maaf, kawan, bila kamu merasa bosan mendengarkan nasehatku. Demi kebaikanmu, kawan. Aku memang tak punya banyak kata yang dapat dirangkai dengan indah. Namun aku kira kamu cukup mengerti apa yang aku katakan. Mungkinkah aku tidak perlu selalu berbaik sangka kepadamu, sehingga aku selalu merindukanmu?
Mungkin sekarang kau masih menikmati kebebasan dari kekangan. Tapi aku berharap kau merindukan aku. Datang menemui aku kembali. Semoga kerinduanmu belum terlambat.

08-12-07, siang

Menjalani hari-hari tanpa ceriamu. Di bawah derasnya guyuran hujan. Mungkin untuk beberapa hari aku masih dapat bertahan, tapi mungkinkah untuk selanjutnya. Aku selalu mengharapkan kehadiranmu, kawan. Menikmati hari kembali bersama, dengan keceriaan yang kita punya.
Bila hujan lebat turun seperti ini, kamu pasti menunggunya hingga reda. Keceriaanmu membuat seisi kamarku terasa hangat.
Apakah kita terlalu akrab, kawan. Sehingga begitu mendalam luka kerinduan di hati saat kau pergi. Entah kapan luka ini dapat aku sembuahkan. Tidak cukup untuk beberapa hari. Mungkin sampai pertemuan kita kembali.

08-12-07, malam

Malam ini tidak ada kata. Sore tadi nomor kamu miss call aku. Cuma sebentar. Aku sedikit terkejut, tapi aku tidak telpon balik, kawan. Aku tunggu yang kedua kali ternyata tidak juga terdengar. Maaf, kawan, bukannya aku tidak menghiraukan, tapi aku sedang menjaga perasaan. Lain kali pasti. Sabar, kawan.


09-12-07

Dua minggu berlalu sudah. Tepat hari minggu, pertemuan terakhit kita. Hari itu adalah perjalanan terpanjang yang pernah kita lalui. Masih ingat kan, kaawan, ketika kita tergesa-gesa untuk pulang. Tapi sepertinya cuma aku yang tergesa untuk segera membawamu pulang. Sementara kamu masih sangat menikmati hari bersamaku dan menikmati perjalanan pulang dengan sangat nyaman.
Ternyata kamu ingin menghabiskan hari-hari terakhirmu bersamaku. Sementara aku tidak tahu bahwa kamu sedang mengumpulkan kemesraan untuk kau jadikan kenangan bersamaku. Kawan, mengapa tak kau katakana dengan sejujurnya. Atau aku yang tak mampu membaca pikiranmu.
Bukan karena sesuatu, kawan, aku mengajakmu segera pulang, karena awan sudah mulai gelap. Aku cuma tidak ingin keakraban kita akan luntur hanya karena tersiram hujan sehingga kita terlambat pulang.
Seandainya aku tahu jika itu hari terakhir kita berbagi sayang, pasti akan aku ajak kamu bermain ke awan. Agar hari-hari terakhir kita lebih berkesan. Sehingga kamu puas membawanya pulang untuk kamu jadikan kenangan. Persiapanku belum matang untuk kamu tinggal begitu jauh. jiwaku lemah untuk menikmati kerinduan sendiri.

10-12-07

Mendung kembali menggunung. Hitam pekat menyelimuti langitku, dengan kilat yang menjilat-jilat. Sebentar lagi akan turun hujan, kawan. Aku takut hujan akan turun dilangit hatiku. Sebab mendung sudah berkabut sampai ke kedua mataku.
Aku berharap angin akan segera menyapu awan pekat ke tempat yang jauh. Sampai aku tidak melihatnya kembali. Dan tergantikan oleh awan biru indah, atau mentari cinta yang selalu membangkitkan semangatku.
Sudah turun, kawan. Deras. Halamanku sedikit banjir. Tapi masih menggantung pekatnya awan penantian di langit hatiku. Sampai ke kedua mataku semakin berkabut. Harus sampai kapan aku menunggu hujan kebahagiaan akan segera turun. Gelap duniaku hingga hampir tak mampu lagi aku bertahan hidup. Terperangkap di gelapnya ruang kerinduan. Hingga malam tiba aku tidak menemukan bulan yang cahayanya selalu memberi kedamaian. Ataupun bintang yang selalu memberi keindahan di pekatnya awan malam. Sementara pelita kecilku hampir habis minyaknya. Aku harus beralih, kawan. Tidak mungkin aku meratapi ini setiap hari. Mau tidak mau aku mesti menikmati meskipun perih di hati.

12-12-07

Musim hujan kembali tiba. Membuat kenangan kita yang hampir kering bersemi kembali. Ketika kerinduan mengetuk pintu hatiku, wajah ceriamu menyapa dengan ramah. Aku jadi terharu. Sendu. Hanya bisa menatap bisu dengan segumpal rasa rindu yang belum terpecahkan.
Aku masih menikmati suasana. Dengan selalu berharap kita dapat mengenang kembali bersama perjalanan yang dahulu pernah kita lalui.

22-12-07

Risau. Sendiri disetiap hari-hariku. Sampai saat ini belum mendapatkan pengganti keceriaanmu. Hingga hari ini belum juga tampak mentari yang rela memberikan kehangatan. Rembulan malam pun enggan tersenyum. Lebih-lebih menghampiri dan menyapa. Aku ingin sejenak kamu kembali kepadaku, kawan. Memberikan sedikit nafas cinta untukku. Seperti ketika kau masih bersamaku. Setiap saat kau selalu hadir menemani setiap langkahku.
Kangen..s
Malam-malam aku masih terasa dingin. Tidak seperti dulu, bayangmu selalu memjadi selimut disaat dingin menusuk tulang-tulangku. Seperti malam ini. Bukan kerana musim hujan. Berbeda dengan musim hujan pertama kali kita bertemu. Selalu ada keceriaan diwaktu derasnya hujan mengguyur. Ketika itu kehangatan muncul menemani kita berdua. Tapi saat ini aku kehilangan jejakmu. Entah dimana kehangatan itu sekarang. Yang selalu menemani kita ketika dingin menyapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar